Piramida 7 Kebutuhan Jiwa Yang Bahagia
Raih kesuksesan sejati dalam hidup
Oleh: Ir. Goenardjoadi Goenawan, MM.
Daftar Isi
Komentar
Kata Pengantar
Daftar Isi
Bagian 1. Pendahuluan
1. Kebutuhan Menurut Abraham Maslow
2. Kebutuhan Jiwa yang Bahagia
3. Masalah bila Jiwa tidak bahagia
a. Sakit Jiwa
b. Bunuh Diri
c. Narkoba
d. Hidup kepepet
4. Benefit meniti jalan kebutuhan Jiwa
a. Hidup ini bukan untuk kita
b. Jalan Mencari Rejeki
c. The Power of Least Effort
d. Rasa bahagia karena mengenal Jiwa
Bagian 2. Piramida Kebutuhan Jiwa yang Bahagia
1. Kebutuhan untuk Didengar
2. Kebutuhan untuk Terbebas dari Ambisi
3. Kebutuhan untuk Menyembuhkan
4. Kebutuhan untuk Mengerti Kebenaran
5. Kebutuhan untuk Mengikuti Kata Hati
6. Kebutuhan untuk Mencari Jati Diri
7. Kebutuhan untuk Mencapai Kemuliaan
Bagian 3. Epilog
Bagian 1. Pendahuluan
Orang bilang ilham, aku bilang jiwa
Orang bilang inspirasi aku bilang imajinasi
Orang bilang belajar dari pengalaman aku bilang
temukan kebenaran sejati
Semua telah dicoba namun seolah-olah sia-sia
Semua telah berusaha namun seolah-olah sungguh sulit
melawan dunia
Semua tidak mau mengerti kita
Bahwa prinsipnya, dunia sungguh sulit untuk dikalahkan
Hidup bukan antara aku dan dunia
Namun antara kita sebagai anggota dari kehidupan
Sehingga kita bisa menjadi bagian dari hidup
Dan mengerti kemana hidup ini akan mengarah?
Namun aku tak tahu…
Bagaimana lagi yang harus aku lakukan…
Hingga aku lelah
Hingga aku menyerah
Hingga aku sadar
Bahwa semua itu bukan tentang aku
Namun tentang dunia
Namun tentang orang-orang lain
Kemana harus aku cari jati diri?
Jiwaku yang murni
Yang mengerti kemana aku harus memilih?
Apa yang harus aku perbuat?
Kemana hati nurani aku cari?
Semua itu bukan tentang aku
Semua itu bukan tentang pengetahuan agamaku
Namun tentang sejauh mana hubungan jiwaku dengan Sang
Pencipta
Namun tentang sejauh mana hidupku berarti bagi dunia
Namun tentang sejauh mana aku mengerti arti hidup yang
sesungguhnya
Bahwa hidup tak perlu berusaha
Bahwa hidup tak perlu memaksa
Bahwa hidup tak perlu mengandalkan kekuatan dan
kekuasaan
Namun hidup sesungguhnya menjadi suatu semangat
menggebu-gebu untuk berbuat bagi orang lain
Goenardjoadi Goenawan
1. Kebutuhan Menurut A. Maslow
Piramida kebutuhan hidup manusia menggambarkan
tahap-tahap yang dibutuhkan oleh manusia dalam
menjalani kehidupannya. Salah satu yang paling
terkenal dan sering dipakai oleh masyarakat adalah
Piramida Kebutuhan Abraham Maslow. Kalau kita lihat,
Kebutuhan kita menurut Maslow dimulai dari kebutuhan
paling dasar yaitu kebutuhan fisiologis, makan dan
minum. Selanjutnya kebutuhan akan rasa aman, Rasa
Cinta dan dimiliki. Selanjutnya menuju pada Kebutuhan
akan Pengakuan. Akhirnya kebutuhan terakhir adalah
mencapai Aktualisasi Diri atau Mencari Jati Diri.
Abraham Maslow
(1908 - 1970)
Abraham Maslow dilahirkan di Brooklyn, New York, pada
tahun 1908 dan wafat pada tahun 1970 dalam usia 62
tahun. Maslow dibesarkan dalam keluarga Yahudi dan
merupakan anak tertua dari tujuh bersaudara. Masa muda
Maslow berjalan dengan tidak menyenangkan karena
hubungannya yang buruk dengan kedua orangtuanya.
Semasa kanak-kanak dan remaja Maslow merasa bahwa
dirinya amat menderita dengan perlakuan orangtuanya,
terutama ibunya.
Keluarga Maslow amat berharap bahwa ia dapat meraih
sukses melalui dunia pendidikan. Untuk menyenangkan
kemauan ayahnya, Maslow sempat belajar di bidang Hukum
tetapi kemudian tidak dilanjutkannya. Ia akhirnya
mengambil bidang studi psikologi di University of
Wisconsin, dimana ia memperoleh gelar Bachelor tahun
1930, Master tahun 1931, dan Ph.D pada tahun 1934.
Abraham Maslow dikenal sebagai pelopor aliran
psikologi humanistik. Maslow percaya bahwa manusia
tergerak untuk memahami dan menerima dirinya sebisa
mungkin. Teorinya yang sangat terkenal sampai dengan
hari ini adalah teori tentang Hierarchy of Needs
(Hirarki Kebutuhan). Menurut Maslow, manusia
termotivasi untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan
hidupnya. Kebutuhan-kebutuhan tersebut memiliki
tingkatan atau hirarki, mulai dari yang paling rendah
(bersifat dasar/fisiologis) sampai yang paling tinggi
(aktualisasi diri). Adapun hirarki kebutuhan tersebut
adalah sebagai berikut:
5. Kebutuhan untuk aktualisasi diri
4. Kebutuhan untuk dihargai
3. Kebutuhan untuk dicintai dan disayangi
2. Kebutuhan akan rasa aman dan tentram
1. Kebutuhan fisiologis / dasar
Hirarki Kebutuhan Maslow
Namun ada sebuah loncatan pada Piramida kebutuhan yang
paling tinggi. Kebutuhan Mencapai Aktualisasi Diri.
Kebutuhan itu sama sekali berbeda dengan keempat
kebutuhan lainnya, yang secara logika mudah
dimengerti, namun mengapa setelah seseorang mencari
pengakuan, mencari penghormatan, kok lalu mencari jati
diri? Mengapa? Dan Bagaimana prosesnya? Seakan-akan
ada missing link diantara Piramida ke-4 dengan Puncak
Piramida ke-5. Seolah-olah terjadi lompatan logika.
Pada saat Bill Gates mengundurkan diri dari Microsoft
Corp. semua orang bingung. mengapa orang yang paling
kaya sedunia, yang paling berkuasa dengan uangnya,
yang paling berpengaruh, paling dihormati seluruh
dunia karena prestasinya karena kekuatannya, tiba-tiba
mengundurkan diri pada usia muda, dan lalu mau
mengurusi yayasan sosial mengurusi korban HIV / AIDS.
Ini yang menjadi suatu lompatan logika.
Seolah-olah seluruh dunia terkejut. Mengapa? Untuk
apa? Mengapa kok tiba-tiba seseorang bisa melepaskan
diri dari dunia nyata, dunia dimana uang dan kekuasaan
berbicara?
Apa isi dunia kehidupan setelah uang dan materi?
Bagaimana prosesnya Bill Gates tiba-tiba mencapai
Aktualisasi Diri dengan tidak lagi peduli dengan
Uangnya, dengan Kekuasaannya?
Berarti ada Kebutuhan lain selain kebutuhan hidup kita
untuk memiliki makanan, rasa aman, Cinta dan
Pengakuan. Ada Piramida Kebutuhan lain selain
kebutuhan Duniawi, yaitu Kebutuhan Jiwa.
1. Kebutuhan hidup manusia menurut Abraham Maslow ini
tidak bisa menjelaskan mengapa kenyataannya bahwa
orang yang miskin banyak yang bahagia, mereka tidak
terpengaruh dengan perbedaan jenis makanan, minuman
atau rumah yang ditempati, seakan-akan ukuran
kebutuhan dasar hidup bukanlah itu.
2. Selain itu, juga banyak orang yang sangat
membutuhkan rasa Cinta, semuanya sangat menyukai untuk
membahas masalah Cinta, mengekspresikan Cinta, namun
semakin dirasakan, Cinta semakin membuat rasa sakit.
Aneh, manusia butuh rasa Cinta tapi semakin mendalam
rasa Cinta yang dimiliki semakin menyakitkan
akibatnya, seolah-olah bukan itu yang sejati. Bukan
itu yang sesungguhnya dibutuhkan. Bukan Cinta yang
begitu. Lalu Cinta yang bagaimana?
3. Seharusnya, hakekat hidup Manusia adalah untuk
memenuhi Kebutuhannya, dengan demikian seharusnya
orang yang telah memenuhi Kebutuhannya dianggap lebih
tinggi, atau dihormati. Kenyataannya orang Kaya,
orang yang mengagung-agungkan Cinta malah dibenci.
Kalau kebencian terhadap Orang Kaya sudah jelas.
Namun selain itu, juga orang-orang yang mengagungkan
Cinta seperti Julius Caesar malah dibunuh. Malah
tidak dihormati. Lalu kalau demikian, buat apa
manusia memenuhi Kebutuhannya kalau dengan demikian
semakin dibenci? Untuk apa? Seolah ada paradoks
dalam hal ini.
4. Kitab suci mengatakan bahwa "Manusia tidak hanya
makan dari roti". Nah, kalau manusia tidak hanya
membutuhkan roti untuk makanan dalam hidup, lalu apa
kebutuhan manusia yang sesungguhnya?
People conform to
the Laws of the Earth.
The Earth conforms to
the Law of Heaven.
Heaven conforms to
the Way (Tao)
The Tao conforms to
its own nature.
-Lao Tzu
2. Kebutuhan Jiwa
Apakah Kebutuhan Jiwa itu? Mengapa kita perlu
mengerti Kebutuhan Jiwa kita? Untuk apa? Dan apa
peranannya dalam mengembangkan diri kita seutuhnya
sehingga kita bisa tahu kemana jalan hidup menuju,
sehingga kita tidak tersesat.
Semua orang tahu bahwa Kebutuhan dasar dalam hidup
adalah Makanan dan Minuman. Maka semua orang
berbicara mengenai Kebutuhan Fisik Minimum, Upah
Minimum, atau Tunjangan Sosial. Semua tahu apa
akibatnya yang terjadi bila Rakyat lapar.
Namun itu adalah menyangkut Kebutuhan Diri manusia
sebagai Ego.
Sesungguhnya selain EGO, manusia juga memiliki Jiwa.
Jadi Tubuh Manusia itu diisi oleh dua hal yang
berbeda, yaitu Ego and Jiwa.
Ego adalah mementingkan diri sendiri. Dorongan
terbesar setiap makhluk hidup adalah dorongan mencari
makan. Semua makhluk hidup begitu. Namun Manusia
selain dikaruniai EGO / Nafsu, juga dikaruniai Akhlak
/ Jiwa. Dengan demikian Manusia memiliki perbedaan
dengan Binatang, misalnya. Sosok Jiwa bagi manusia
inilah sebagai pemilik Tubuh kita yang sesungguhnya.
Seperti misalnya ada sebuah Rumah yang ada Pemiliknya
namun ada yang mau Mengontrak. Siapakah yang paling
mengerti kebutuhan Rumah tersebut? Pengontrak atau
Pemilik sesungguhnya? Tentulah sebagai Pemilik asli
dari Tubuh kita, maka Jiwa kita lah yang sesungguhnya
sebagai Pemilik Tubuh kita yang paling mengerti
kebutuhan hidup kita. Bukan kebutuhan Makanan atau
minuman dalam hal ini, namun kebutuhan akan Jiwa yang
Bahagia.
Bahagia?
Benarkah Kebutuhan hidup yang sesungguhnya adalah Jiwa
yang Bahagia? Kemana kita mencari Kebahagiaan?
Bagaimana caranya kita Mencapai Kebahagiaan Jiwa
dengan cara Memenuhi Kebutuhan Jiwa? Nourishing The
Soul?
• Apa akibatnya bila kita tidak memenuhi Kebutuhan
Jiwa yang Bahagia?
• Apa manfaatnya bila kita memenuhi Kebutuhan Jiwa
yang Bahagia?
• Apa langkah-langkah yang harus dilakukan untuk
memenuhi Kebutuhan Jiwa yang Bahagia?
Pertanyaan selanjutnya adalah, bagaimana caranya
Mengenal Jiwa kita? Bagaimana caranya meningkatkan
spiritualitas kita? Banyak yang berpikir bahwa
meningkatkan Spiritualitas adalah dengan cara-cara
lewat pengetahuan agama semata. Sebenarnya hidup kita
ini memiliki dua hal yang bertentangan. Seolah-olah
ada dua kehidupan, yaitu:
1. Kehidupan duniawi, yaitu lewat Ego kita
2. Kehidupan surgawi lewat Jiwa kita
Dengan demikian seperti pengalaman petualangan
menonton bioskop, ada yang satu berkomentar
• "Mengapa kok filmnya kabur?" Dia tidak mengerti
jalan cerita film tersebut.
• Sedangkan yang lainnya mengatakan "wow, filmnya luar
biasa, sungguh menegangkan, sungguh indah".
Ternyata orang yang pertama lupa memakai kacamata 3
dimensi.
Demikian pula seorang yang tidak mengenal Jiwanya,
maka hidup seolah-olah menjadi kabur, menebak-nebak
dan kadang tepat, kadang meleset. Dia hanya
mengharapkan kemungkinan untuk melalui jalan yang
benar karena pandangannya kabur. Dia bingung tidak
mengerti bagaimana jalan cerita hidup sesungguhnya.
Pada saat kita mendalami pengetahuan agama, kita
diberi penjelasan dengan bahasa dan logika yang
berbeda dengan kenyataan duniawi. Yang satu duniawi,
yang lain surgawi, bagaimana kita dapat mengerti?
3. Masalah yang timbul bila Jiwa tidak bahagia
1. Sakit Jiwa.
• Mengapa seseorang menjadi Sakit Jiwa?
• Apanya yang kurang sehingga dia menjadi Sakit Jiwa?
• Apakah karena tekanan hidup?
• Apakah karena kemiskinan?
• Apakah karena putus cinta?
Ada fenomena seseorang yang dulu sangat terkenal,
namanya Jusuf Randy, saat ini telah berumur 64 tahun
dan telah 20 tahun dikucilkan atau diusir dari Negara
Indoensia. Dalam komunikasi email Jusuf Randy
menggunakan nama Mang Ucup (istilah Sunda untuk
Jusuf). Satu hal yang dia rasakan sangat butuh adalah
perasaan untuk Didengar. Oleh karena itu dia sangat
bahagia ketika bisa saling berkomunikasi dengan
bangsanya sendiri, walaupun selama 20 tahun ini
dikucilkan dan terpaksa hidup di Holland dan menjadi
warga Negara Jerman.
Berikut ini adalah email pribadi dari Bapak Jusuf
Randy di Holland.
Japri sejenak
MANG UCUP
Salam sejahtera untuk sdr. Gunawan yang baik
Pertama dengan ini saya hendak mengucapkan banyak
terima kasih atas kiriman email maupun sapaannya yang
begitu hangat dan begitu penuh dengan rasa kasih dan
persahabatan. Email sdr. Gunawan telah menjadi berkat
bagi mang Ucup yang telah saya simpan di tempat yang
paling istimewa. Semoga hubungan kita tidak berakhir
hanya sampai disini saja, melainkan masih memanjang
sampai seratus tahun yang mendatang.
Saya akan merasa sangat sedih sekali, apabila
kehilangan sdr. Gunawan sebagai seorang sahabat, sebab
mencari sahabat yang baik dan begitu penuh dengan
perhatian seperti sdr. Gunawan itu sukar sekali, lebih
mudah mendapatkan 100 ribu musuh daripada seorang
sahabat yang baik.
Apabila ada sesuatu yang bisa saya bantu sekarang ini
ataupun di kemudian hari janganlah ragu-ragu untuk
mengutarakannya, disamping itu apabila ada kesempatan
untuk berkujung liburan ataupun tugas ke Eropa
janganlah lupa untuk mampir berkujung ke gubuk kami.
Kedatangan sdr. Gunawan kami tunggu.
Salam akrab dengan penuh kasih dan doa untuk sdr
Gunawan sekeluarga dari sobat tua di Holland
Mang Ucup
Membaca tulisan dari Bapak Jusuf Randy menunjukkan
bahwa hubungan Jiwa sungguhlah terasa sangat penting.
Kerinduannya akan seorang sahabat sehati sangatlah
mendalam, sehingga hanya satu surat saja bisa
memberikan pengaruh atau response yang begitu
mendalam. Inilah menunjukkan betapa hebatnya betapa
besarnya kebutuhan untuk Didengar. Hatinya akan sedih
bila kehilangan setitik kehangatan yang „menjadi
berkat bagi mang Ucup yang telah disimpan di tempat
yang paling istimewa. Semoga hubungan kita tidak
berakhir hanya sampai disini saja, melainkan masih
memanjang sampai seratus tahun yang mendatang."
„Mang Ucup akan merasa sangat sedih sekali, apabila
kehilangan sdr. Gunawan sebagai seorang sahabat, sebab
mencari sahabat yang baik dan begitu penuh dengan
perhatian seperti sdr. Gunawan itu sukar sekali, lebih
mudah mendapatkan 100 ribu musuh daripada seorang
sahabat yang baik."
Lalu apa perasaannya Eddy Tansil, Gunawan Santosa,
Marimutu Sinivasan, dan lain-lain bila harus
dikucilkan? Mungkin mereka terpaksa operasi Face off
mengganti wajahnya supaya untuk dapat memenuhi
Kebutuhannya untuk Didengar, untuk berhubungan dengan
masyarakat.
Ini menunjukkan bahwa untuk menjadi berkat, kita tidak
perlu melakukan suatu hal luar biasa, atau hal yang
besar, namun hal-hal sederhana mampu menjadi berkat
bagi orang lain. Pepatah mengatakan, "tidak masalah
besar atau kecil, bantuan sungguh terasa besar artinya
pada saat dibutuhkan."
2. Bunuh diri
Bunuh Diri, Luar Biasa, dan Masih Misteri
Sartono Mukadis
Apakah pelaku bunuh diri bisa dikatakan mempunyai
penyakit kejiwaan? Apakah hal itu dilakukan dengan
spontan? Mengapa orang sampai bisa menyiapkan segala
sesuatunya sebelum bunuh diri?
Dalam teori psikologi perilaku, bunuh diri sebenarnya
adalah kepanikan atau letupan sesaat, sebuah dorongan
yang tiba-tiba. Antara terpicu dan bertindak hanya
berlangsung sekejap, dalam hitungan detik, menit, atau
jam, namun tidak dalam hitungan hari. Orang berada
dalam emosi yang sangat memuncak sebelum akhirnya dia
mengakhiri hidupnya. Jarang sekali orang sampai
berpikir dua sampai tiga kali sebelum bunuh diri,
kecuali ada obsesi kompulsif yang terus berulang. Ia
terobsesi untuk mengakhiri hidupnya.
Belum ada satu pun literatur yang menyebutkan teori
mengenai bunuh diri yang dipersiapkan, namun ternyata
hal itu ada. Saya juga tidak tahu mengapa ada orang
yang berpikir dulu, mengambil racun, membeli tambang
ke pasar, menyimpul tambang itu, mencari plafon yang
kuat.
Mengapa ada orang memilih melompat dari bangunan
tinggi, sementara orang lain memilih membakar diri?
Bisakah Anda menjelaskannya?
Itu tergantung pengalaman, pendidikan, dan kedekatan
atau kesempatan. Kalau dia tinggal di gedung tinggi
dan tidak ada alat untuk bunuh diri di saat dia sedang
dalam kondisi emosi yang memuncak, yang paling mudah
adalah meloncat. Namun, pada orang lain, mungkin
dipengaruhi oleh buku yang kerap dibacanya atau
tayangan yang kerap ditontonnya.
Apakah setiap orang memiliki kecenderungan untuk bunuh
diri?
Bunuh diri bukan hanya bisa dilakukan orang yang sakit
patologis saja, tetapi juga bisa dilakukan oleh orang
normal. Setiap orang normal juga punya kecenderungan
untuk bunuh diri. Tergantung seberapa besar tingkat
kelenturan kepribadian yang dimiliki seseorang. Orang
yang kepribadiannya kaku lebih mudah melakukan bunuh
diri jika ada perubahan-perubahan tidak menyenangkan
yang terjadi pada dirinya. Sedangkan orang dengan
kepribadian fleksibel lebih bisa mengendalikan
kekecewaannya.
Misalnya, saya punya uang Rp 1.000 saja masih bisa
ketawa- ketawa, sedangkan orang lain kehilangan Rp 1
miliar saja sudah merasa bangkrut dan bisa bunuh diri.
Ambang kelenturan seseorang itu macam-macam. Semakin
kaku semakin mudah patah.
UNTUK mengatasi tekanan sosial dan ekonomi di Jakarta
ini, apa yang harus kita lakukan?
Adaptasi. Artinya, jangan terlalu kaku dalam
menghadapi hidup ini. Hidup tak bisa dipandang secara
hitam putih. Setiap peristiwa yang terjadi dalam hidup
kita harus bisa disikapi secara fleksibel. Dengan cara
seperti itu kita akan survive dari tekanan-tekanan
hidup.
Bagaimana caranya menanamkan kelenturan pada
seseorang.
Kelenturan itu bisa diajarkan sejak masa kanak-kanak.
Ketika anak sudah memasuki taman kanak-kanak harus
diajarkan untuk bisa mengatasi masalahnya sendiri.
Jangan mau “diperas” anak yang meminta agar semua
keinginannya selalu dipenuhi. Dengan cara seperti itu,
anak akan terbiasa berpikir kreatif alternatif. Anak
dibimbing untuk mencari jalan keluar lain untuk
mengatasi masalahnya. Kelak jika dewasa, ia akan
memiliki ambang kelenturan yang tinggi.
Untuk melatih kelenturan, anak bisa diajarkan untuk
berani menertawakan diri sendiri. Cara itu dilakukan
agar anak terlatih menghadapi kegagalan. Yang kedua,
jangan pernah membanding-bandingk an anak dengan anak
lain karena hanya akan memunculkan tekanan psikologis.
Yang benar, bandingkan anak itu dengan dirinya
sendiri. Misalnya, “Nak, mengapa nilainya sekarang
lima? Cawu lalu nilaimu bisa tujuh, kan”. Jangan
sampai bilang, mengapa nilai anak itu lebih jelek
dengan tetangga sebelah, misalnya.
Banyaknya kasus bunuh diri mengindikasikan apa?
Bunuh diri menandakan masyarakat kita sedang sakit.
Kasus bunuh diri ini banyak terjadi di kota-kota
besar.
Mengapa di kota besar seperti Jakarta?
Jakarta ini lebih berbentuk kerumunan (crowd) sehingga
banyak orang yang kehilangan komunikasi satu sama
lain. Bandingkan dengan orang yang hidup di kampung
atau pedesaan. Dengan budaya seperti petan (mencari
kutu rambut) yang mereka miliki, masing-masing orang
bisa mengungkapkan persoalan yang dihadapinya dengan
orang lain. Orang bisa mendengarkan dan didengarkan.
Di Jakarta, jutaan orang seolah tercerabut dari
akarnya. Keakraban antarwarganya kurang terjalin
dengan baik. Sempitnya ruang terbuka yang bisa
dimanfaatkan oleh warga untuk bersosialisasi ikut
memengaruhi itu. Sedangkan bentuk komunitas sekarang
ini lebih bersifat formal dan kurang bisa
mengakomodasi kebutuhan psikologis anggotanya.
Alangkah baiknya jika radio-radio swasta lebih sering
mengudarakan acara curhat, lebih bicara dari hati ke
hati.
Budaya ngrumpi itu sebenarnya baik, namun ngrumpi di
Jakarta sudah mengalami metamorfosis, dan lebih kepada
obrolan kosong. Tidak ada sharing dan caring.
Penjelasan dari Sartono Mukadis tersebut menjelaskan
bahwa ada kecenderungan orang-orang yang tercerabut
dar akarnya, keakraban antar warga yang kurang
terjalin dengan baik. Orang butuh mendengarkan dan
didengarkan. Kebutuhan ini menjadi penting, dan
adanya kekurangan dalam memenuhi kebutuhan ini bisa
menyebabkan tidak bahagia jiwanya, dan kecenderungan
bunuh diri di kota besar.
3. Narkoba
Coba anda perhatikan foto-foto berikut ini. Manakah
yang merupakan foto Whitney Houston? Yang pertama?
Atau yang kedua? Penyanyi terkenal di dunia Whitney
Houston telah memenangkan beberapa Grammy Awards,
lagunya paling terkenal adalah I Will Always Love You
ketika bermain dalam film The Body Guard. Saat ini
Whitney menjalani rehabilitasi Narkoba. Anda benar,
kedua foto di bawah ini adalah foto-foto Whitney
Houston ketika terserang Narkoba, dan foto sebelumnya
tahun 2001. Sungguh sangat disayangkan bahwa pada
umur 40 tahun, usia yang tergolong muda, hidupnya
hancur hanya karena tidak mampu meninggalkan Ego diri
pribadinya.
Tahun 2006
Tahun 2001
Whitney won't stay off the drugs. It's every single
day. It's so ugly. Everyone is so scared she is going
to overdose." In a shocking interview, the mother of
six told how Whitney spends days locked in her bedroom
amid piles of rubbish.
Whitney Houston Checks Into Drug Rehab Facility For
The Last Time, Again
Going to rehab again for the “last time”, Whitney
Houston entered a drug rehabilitation facility this
week to help her overcome the problem she does not
have with drugs.
“I don’t have a problem with drugs,” stated Whitney
Houston, visibly under the influence of Marijuana,
“The media is making things up again. I never had any
problems with drugs. I’m so hungry now. I’m really
hungry now. Does anyone have anything to eat?”
In January 2000, Whitney Houston was caught with
Marijuana in Hawaii’s International Airport. In
December 2002, she admitted on ABC that she abused
drugs in the past, but she was “all better now”.
“Yes. Whitney does have some issues with drugs.”
Stated Nancy Seltzer, Whitney Houston’s publicist,
“But she has a reason. She has horrible life. Imagine
being the niece of a famous singer, surrounded by
talented people constantly, being given the gift of a
wonderful voice and great talent, being extremely
beautiful, making millions of dollars, selling
millions of records and living in a wonderfully huge
house always surrounded by glamorous people. How can
you blame her? Of course with problems like that, the
only thing she can do is turn to drugs. Normal people
just don’t understand the pressures of everyday life.”
Sungguh sulit dibayangkan, penyanyi paling terkenal di
dunia hidupnya bisa hancur dalam waktu begitu singkat.
Contoh lain adalah Mike Tyson. Berikut ini adalah
kisah hidup Mike Tyson, mantan Juara Dunia Tinju kelas
berat.
Mike Tyson
1984: Jim Jacobs menjadi manajer setelah D’Amato
meninggal. Tyson baru kehilangan kesempatan untuk ikut
team Olimpiade United States .
1985: Memulai karir professional dengan meng-KO pada
ronde pertama Hector Mercedes.
1986: Pada umur 20 tahun dia menjadi juara dunia
tinju kelas beratdengan meng-KO Trevor Berbick pada
ronde kedua untuk memenangkan juara WBC.
1987: Mengalahkan James ‘Bonecrusher’ Smith dan
menjadi juara dunia tinju WBA kelas berat. Ketika dia
memenangkan juara IBF title melawan Tony Tucker, Tyson
menjadi juara dunia kelas berat yang sesungguhnya.
8 February 1988: Menikahi aktris Robin Givens.
1988: Robin Givens dan keluarganya menuntut Tyson
karena kekerasan.
1990: Dalam kesedihan luar biasa karena dikalahkan
KO oleh James ‘Buster’ Douglas pada ronde ke-10 di
Tokyo dan kehilangan gelar juara dunia kelas berat.
1991: Bertemu Desiree Washington, Kontestan Miss
Black America berumur 18 tahun, yang menuduh Tyson
memperkosa dia. Tyson terbukti memperkosa dan
dipenjara selama 6 tahun.
19 August 1995: Mengalahkan Peter McNeeley dalam 89
detik di Las Vegas setelah McNeeley didiskualifikasi.
Mengalahkan Buster Mathis Jnr di Philadelphia dengan
KO pada ronde ke-3.
1996: Kalah dari Evander Holyfield ' kehilangan
gelar WBA and WBC. Meraih kembali gelar WBC dengan 3
rondemelawan Frank Bruno di Las Vegas. Meraih kembali
gelar juara WBA dengan mengalahkan Bruce Seldon KO
ronde ke-1namun 2 minggu kemudia dia kehilangan gelar
WBC karena menghindar melawan Lennox Lewis.
9 November 1996: Kalah dan kehilangan gelar WBA
melawan Evander Holyfield pada ronde ke-11.
28 June 1997: Bertanding ulang untuk gelar WBA Tyson
didiskualifikasi pada ronde ke-3 karena menggigit
telingaEvander Holyfield. Dia didenda $3 juta
kehilangan ijin bertanding.
16 January 1999: KO pada ronde pertama melawan
petinju South Africa Francois Botha di Las Vegas.
6 February 1999: Tyson dipenjara 1 tahun karena
menyerang 2 pengendara motor. Melempar TV dalam
penjara dihukum 25 hari dalam penjara solitary.
24 May 1999: Tyson dibebaskan secara bersyarat dari
penjara, setelah melewati kurang dari sepertiga dari
masa 1 tahun hukuman.
BBC News Online
Mike Tyson saat ini umurnya 40 tahun telah sadar bahwa
karirnya bertinju telah usai, pernah menjadi Juara
dunia tinju paling muda se dunia, Mike Tyson saat ini
sedang berusaha minta pengembalian pajak ke Negara
yang telah dia bayarkan pada masa jayanya. Namun
usaha tersebut adalah mustahil.
Banyak sekali contoh-contoh kehidupan orang-orang
terutama artis, atlet olah raga dan tokoh lainnya yang
mengalami sukses namun semuanya menjadi sia-sia bila
mereka tidak mampu memenuhi kebutuhan jiwanya,
kebutuhan untuk meninggalkan ambisinya, meninggalkan
ego dirinya sendiri.
4. Hidup kepepet
Sering kita merasa, hidup ini penuh tekanan, penuh
beban dan solah-olah kita merasa hidup kepepet.. hidup
penuh keterpaksaan. .
Rasanya seperti taksi, setoran PLN, setoran Citibank,
setoran PAM, belum lagi Telkomsel… sepertinya hidup
ini penuh dengan beban yang tidak mau istirahat..
Pepatah mengatakan bahwa
“seseorang tidak dapat memperoleh keuntungan yang
besar bila mau cepat, atau tidak mengerti hidup..”
Hidup kita ini sepertinya selalu urgent, selalu
mendesak, selalu terpaksa, mau diterusin kok lumpur
makin dalam mau balik takut kecebur selokan lumpur…
Lalu ada yang bilang…
“Hidup jangan kepepet?”
Bagaimana?
Pernahkah kita memikirkan.. . hidup kita ini
seolah-olah selalu digenangi lumpur, dan hidup
seolah-olah selalu di pengungsian, dan kita hanya
menyalahkan orang-orang kaya yang hidupnya
berkelebihan?
Ataukah, bisakah kita hidup merdeka, terlepas dari
beban? dan hidup bebas berkarya menurut kata hati
kita?
Pernahkah kita berpikir apa penyebab semua
keterpaksaan ini?
1. Kita nonton TV acaranya kalau tidak anak tiri yang
diperkosa bapak tirinya, atau mengapa aku tumbuh
menjadi banci? Isinya bapaknya gebukin anak
laki-lakinya setiap hari, atau suami selingkuh dengan
istri muda…. Rasanya hanya 5 menit saja, kita merasa
mau muntah… Bagaimana tidak tertekan kalau setiap
hari kita dijejalin acara begitu?
Kita ini hidup bukan begitu….. Hidup yang
sesungguhnya adalah bagaimana merawat mawar, melati,
kamboja, atau merawat kucing yang sehat, bukannya
gebukin anak kandung kita, apa kita sudah edan?
Makanya jangan nonton TV, apalagi setiap 15 menit kita
dijejalin dengan iklan handphone baru, sepeda motor
baru, rokok baru, aduh….. Bagaimana tidak kepepet?
Sebetulnya kita ini memepetkan diri sendiri dengan mau
dijejali iklan konsumtif yang perucuma tidak berguna.
Coba kita pikir, apa bedanya Suzuki Smash, Honda Supra
Fit, Yamaha Jupiter MZ atau Suzuki Scorpio? Apa kita
mau terbang kecepatan 250 KM per jam? Semua itu
sebenarnya sama saja, hanya ego kita saja yang maunya
membeda-bedakan. Hakekatnya sama saja.
2. Kita merasa hidup ini tergantung uang… Padahal
sesungguhnya uang itu sama saja, baik itu Rp
10,000,000 atau Rp 10 Milyar atau Rp 100 Milyar,
bedanya hanya nolnya saja, tapi rasanya sama saja.
Punya uang Rp 10 juta kita mikir aduh gak cukup ke
Thailand?
Punya uang Rp 100 juta kita mikir aduh gak cukup beli
Toyota Fortuner …
“Uang itu satuannya bukan Rupiah atau Milyar tapi
satuannya adalah gaya hidup. semakin besar uangnya
semakin tinggi gaya hidupnya, jadi hasilnya sama
saja.”
Orang yang punya Rp 10 Milyar akan sibuk berangkat ke
Las Vegas, ujung-ujungnya juga habis sebulan, sama
dengan kita habiskan Rp 2 juta habis sebulan juga..
Orang miskin tidak pernah merasa problem kalau dia
melihat uang dengan pecahan Rp 1000. bayangkan, berapa
banyak uang Rp 500,000 kalau dipecah Rp 1000an?
banyak banget.,..
Orang kaya satuannya bukan Rp 1000 tapi K. Artinya
apa? 1 K itu artinya US$10,000. Jadi kalau uang
hanya Rp 2 Milyar itu adalah 20 K.
Ngomongnya.. . aku dapat proyek, tapi tidak aku ambil
karena dibawah 2 K. artinya dibawah US$ 2 Kilo, atau
US$ 20,000 atau Rp 200,000,000. duit segitu juga
terasa kecil… hanya 2 K.. akhirnya duit itu sama
saja, orang kecil melihatnya Rp 1000an orang besar
melihatnya berapa K?
3. Kita merasa bahwa selalu ada yang harus
ditaklukkan.
Waktu sekolah kita merasa harus mengalahkan teman2
sekelas, menjadi Ranking 10 besar. di kantor apalagi,
rasanya office politic menjadi makanan sehari-hari
menjadi mantra untuk mengalahkan pihak lawan.
Dan kita cenderung untuk mengomentari ketidak adilan.
Rasanya kalau lumpur Sidoarjo kita tumpahkan di depan
Kantor Menko Kesra kita menjadi puas, kalau perlu
lumpurnya kita semprotkan saja…. Dan kita selalu
menyalahkan pihak yang Otoriter, pihak yang menindas..
Namun kita tak berdaya.. kita hanya bisa menyalahkan
Jusuf Kala dan Amerika saja… Harga minyak kita
persalahkan, dan kita tidak mampu mengalahkan mereka..
Dan kita tak berdaya..
Sesungguhnya, Hidup bukanlah untuk dikalahkan,
dikuasai, atau dilawan..
Hidup adalah untuk diikuti alurnya… dijemput,
dipeluk, bukan dilawan.
“Pernah kita dengar kata-kata “Ibu Pertiwi”…. hidup
itu adalah seperti kita menghadapi Ibu kita sendiri,
tidak perlu dilawan, hanya dituruti saja.”
Kalau alam mengatakan sudah banyak pengangguran, maka
jangan kita mengotot mencari memikirkan mengidamkan
lowongan kerja. apa tidak ada yang lebih penting
dalam hidup ini selain mencari lowongan kerja?
Lihatlah orang-orang sekeliling.. ..
Ibu-Ibu menderita, kurang makan, kurang rasa percaya
diri, kurang susu, kurang duit, kurang bahagia…
banyak Ibu-Ibu antri minyak tanah, antri beras, antri
Indomie… Tugas kita adalah membantu mereka, seperti
kita anggap Ibu sendiri..
Mereka-mereka itu juga punya anak, dan hanya Tuhan
yang tahu apakah kita dilahirkan untuk menjadi apa,
apakah anaknya Duta Besar atau anak-anak mereka.
Kalau kita merasa sudah sedikit memiliki Keahlian,
bukankah tugas kita untuk membantu mereka? Membantu
Ibu Pertiwi?
“Sudah saatnya kita merubah diri kita, jangan lagi
memusatkan pikiran pada diri sendiri, pada uang, pada
sex, pada kekuasaan… “
“namun pusatkan pikiran pada orang-orang lain…”
Pikirkan Ibu Pertiwi menangis setiap siang malam hanya
mencari makanan untuk bayinya yang menangis. Anda
jangan lagi mengeluh kurang ini kurang itu, toh anda
belum pernah makan nasi yang sudah kering, yang sudah
basi, yang sudah kecoklatan.. .
Satu orang di Republik kita ini terasa kecil, namun
ingatlah, bahwa satu per satu kita akan menjadi kuat,
kita akan menjadi bibit pembawa perubahan dalam Negara
kita.
Jangan lagi menyalahkan Korupsi, atau KPK, atau
Birokrasi, tapi pikirkanlah Ibu Pertiwi kita sendiri,
mereka merasa sedih, dan kita mampu berbuat banyak,
karena sesungguhnya masalah hidup rata-rata orang
Indonesia tidak lebih dari Rp 3 juta saja per orang.
• Gara-gara Rp 3 juta debt collector mengobrak-abrik
rumah tangga,
• Gara-gara uang Rp 3 juta istri minta cerai, karena
tidak ada uang untuk beli susu, beli deterjen…
“Tidak masalah besar atau kecil, sesungguhnya bantuan
itu menjadi penting pada saat dibutuhkan.”
“Jangan lagi merasa terbebani oleh hidup hanya karena
anda menuruti nafsu diri sendiri, tapi bebaskan diri
anda dari beban hidup, yaitu dengan hidup merdeka demi
orang-orang lain, dengan empati untuk memikirkan
orang-orang lain, membantu masalah masyarakat.”
Berikut ini pertanyaan dari sahabat saya mengenai
pengenalan Jiwa.
Ada 2 macam pandangan tentang jiwa.
1. Jiwa yang tidak sempurna
Jiwa yang ndak sempurna cenderung ndak utuh, jadi dia
membutuhkan sesuatu untuk membuatnya utuh. Dan saat
menjadi utuh, efeknya adalah kebahagiaan. Apa
kebutuhan itu? ya itu emang jadi pertanyaan besarnya.
2. Jiwa yang sempurna
Jiwa yang sempurna, udah utuh sejak awal, dia ndak
butuh sesuatu, tidak butuh apapun. Tapi ada sesuatu
yang membuat jiwa itu tidak bebas, atau ada sesuatu
yang mengikat /menutupi jiwa itu. Kalau sesuatu yang
menutupi/mengikat jiwa itu bisa lenyap, maka jiwa pun
akan bebas. Dan efek dari kebebasan itu adalah
kebahagiaan. Pertanyaan besar dari pandangan ini
adalah, apa yang menutupi/mengikat jiwa?
Metosz
Jawab: Keduanya itu benar, bahwa Jiwa yang tidak
sempurna membutuhkan sesuatu. Kebutuhan jiwa itu bila
dipenuhi akan membawa kebahagiaan. Jawaban kedua anda
juga benar, Jiwa yang sempurna tertutupi oleh
selubung. Selubung itu adalah Ego.
Dengan demikian bila kita memenuhi kebutuhan Jiwa,
salah satunya adalah meninggalkan Ego, maka akan
diperoleh Jiwa yang sempurna, Jiwa yang bahagia.
4. Benefit meniti jalan memenuhi kebutuhan jiwa
1. Hidup ini bukan untuk kita
Sering saya mendapat email dari teman2 yang beberapa
memberi apresiasi, kok bisa saya membantu teman2 dalam
memberi inspirasi … misalnya:
“Salam kenal Pak Goen, nama saya Handy saat ini
bekerja pada sebuah perusahaan distributor di jakarta
terus terang saya salut dengan banyak artikel tulisan
yang bapak kirimkan di forum management tidak pernah
neko-neko dan selalu membuat orang ‘melek’ dan mau
melihat keadaan dengan gaya bahasa yang sederhana dan
lugas sehingga bisa ‘nembak’ langsung ke orang yang
membaca tulisan sepertinya pak Goen, masih punya
banyak pengalaman dan informasi yang perlu dibagi-bagi
dengan kita sekali lagi salut pak Goen, and keep the
good work ..”
Beberapa teman heran, kok bisa-bisanya saya memiliki
keinginan kuat untuk membantu orang lain? Sedangkan
mengurusi diri sendiri saja sudah rasanya berat…
Sebenarnya saya sendiri dulunya gak begitu… saya 12
tahun bekerja di FMCG di Bisnis Development saya tidak
bahagia… terlalu dibebani ambisi. prinsip saya dulu,
kalau saya tidak mampu membeli sesuatu, yang salah
adalah gaji saya, karena saya merasa memiliki bakat
yang besar…
Akhirnya setelah saya mendapatkan uang yang banyak
sekali saya jadi bingung, setiap hari main ke Plaza
Senayan, shopping. kadang saya shopping dengan 5
teman saya, masing-masing dibelikan jam tangan atau
hand bag, yang belum pernah mereka beli seumur
hidupnya… ternyata semua itu gak ada gunanya. Tidak
membuat saya bahagia,
Saya baru sadar bahwa kekayaan membuat kita beku…
sendirian, karena yang lain masih sibuk bekerja,
sedangkan saya shoppong, shopping, shopping… sampai
saya rasanya ingin mati saja. pikiran saya… “saya
sudah berjuang dalam hidup, sampai memiliki kekayaan
yang besar, jadi hidup tidak ada beban lagi, tidak ada
tantangan… selanjutnya. .. mati”
Dalam proses pikiran untuk mati itu, saya sering tidak
bisa bangun, pinggang sakit, kaki sakit asam urat,
terlalu banyak indulgence, kenikmatan makanan, kurang
keluar keringat, dan kurang beban pikiran… Tetapi
ternyata di ujung proses saya ingin mati tersebut,
saya mendengar begitu banyak teriakan… Ternyata di
dunia ini banyak yang teriak minta tolong… Minta
tolong Tuhan… Dan saya merasa Tuhan sangat sibuk
sekali mengendar teriakan orang setiap malam, ada
orang kaya, ada orang miskin semuanya teriak minta
tolong… Tuhan sungguh sibuk, dan saya jadi
terhenyak, gak jadi mau mati.
Buat apa saya hidup enak, kalau Dunia masih banyak
yang menderita? Hidup untuk disyukuri, bukan untuk
menderita… Hidup untuk hidup, bukan untuk mau mati
saking tidak kuatnya menahan derita. Akhirnya saya
baru tahu, bahwa saya selama ini mengabaikan panggilan
hidup,. Saya mengabaikan pangilan orang-orang yang
teriak minta tolong. Saya baru sadar bahwa hidup bukan
untuk kita, namun untuk orang lain..
Dulu saya sungguh sebal kalau ide saya tidak
diterapkan perusahaan. memang dari dulu saya kratif,.
Sekarang…. Saya bekerja tidak perlu berusaha…
Karena pekerjaan saya bukan untuk saya, namun untuk
orang-orang lain di sekitar saya..
Besok saya ketemu PresDir Group Besar. Dulu saya
sebal, kok tidak di follow up? Sekarang saya
dikejar-kejar beliau, beliau ingin mendapatkan bantuan
saya… Setelah menyadari selama ini saya memang
berbuat baik untuk dia.
Dulu kita mengharap proyek, dapat duit… Sekarang
mereka yang telepon kita, mencari kita, karena di
dunia jarang orang yang layak dipercaya..
Dulu saya sering sebal, teman saya kok maju mundur mau
mengenalkan ke PresDir Bimantara… Ehhh, setelah
ngobrol 2 bulan, sekarang dia yang telepon saya,
menyanyakan follow up setelah pertemuan dengan PresDir
Bimantara… . Dan karena kita didukung Presdir
bimantara maka langkah kita menjadi mulus… lus…
lus… Kita yang disambut oleh semua level manajemen.
Kita tidak ada gunanya memaksa orang lain untuk
menuruti kita, kecuali kita berbuat untuk mereka..
semua orang memiliki tujuan, dan tugas kita hanya
membantu mereka mencapai tujuan mereka…
Dan saya kembali ditanya kok mau mensharingkan
pengalaman hidup, pemikiran untuk memotivasi orang
lain?
Saya melakukannya bukan untuk orang lain, namun untuk
memberi makan jiwa saya… pada saat anda rutin
memberi makan jiwa anda, maka dunia akan datang
menghampiri anda… menelepon anda, mengirim sms
kepada anda, menyambut anda, karena anda berbuat untuk
mereka….
Dan anda akan terus berbuat kebaikan untuk menolong
orang lain dan jiwa anda akan merasa semakin damai,
dan anda akan semakin banyak mendapat dukungan dari
orang lain…. dan anda “merdeka untuk melakukan kerja
sesuai dengan kata hati anda tanpa terbebani”.
Bahwa dunia bukan untuk kita, namun untuk orang-orang
lain.,..
2. Jalan mencari rejeki
Banyak orang memisahkan jalan duniawi dengan jalan
surgawi. Artinya masalah hidup (masalah duniawi)
adalah berbeda dengan masalah surgawi, karena masalah
surgawi adalah untuk nanti kalau kita sudah mati. Pada
suatu kesempatan berdiskusi saya pernah ditanya:
Apakah jalan mencari rejeki itu sama dengan pelayanan?
Apakah dengan berpikir mengenai kepentingan orang
lain itu sama dengan berbuat baik?
Jalan mencari rejeki itu ada 2 tahap:
1. Semua orang di dunia butuh uang, namun ini adalah
jalan buntu
2. Jalan terbukanya rejeki adalah dengan cara menolong
orang lain. Memberikan solusi bagi masalah orang
lain. Namun jangan lupa pasal 1.
Jadi antara pelayanan atau berbuat baik adalah suatu
hal yang berbeda dengan jalan mencari rejeki. Pada
waktu kita berbuat baik, kita hanya sepenuhnya tanpa
motivasi apapun, kecuali hanya perbuatan baik itu.
Namun dalam hidup, kita ini harus mencari rejeki,
untuk mengisi hidup. Namun kita memiliki 2 pilihan,
yaitu
1. Dengan memikirkan masalah kita, atau tujuan kita,
atau
2. Memikirkan masalah orang-orang lain. Nah, cara
kedua tersebut adalah lebih membuka pintu rejeki.
Mengapa demikian? Karena akar dari rejeki adalah rasa
percaya. Nah, akar dari kepercayaan itu adalah
kepentingan pihak lain. Pada saat pihak lain itu
memiliki kepentingan, maka mereka cenderung percaya.
Dengan demikian, jalan mendapatkan rejeki melalui
memikirkan kepentingan orang lain memiliki 2 benefit,
yaitu:
1. Dengan memikirkan orang lain maka kita akan meraih
konsep kepemimpinan, artinya kita akan mampu
mengendalikan orang lain.
2. Dengan memikirkan orang lain, maka kita akan mampu
memberi makan jiwa kita, sehingga kita akan
mendapatkan kecerdasan spiritual.
Dengan demikian, kita tidak perlu lagi memisahkan
jalan duniawi dengan jalan surgawi. Karena tujuan
Tuhan menciptakan manusia itu adalah bagi manusia
untuk berbuat kebaikan.
Meniti jalan dengan memenuhi kebutuhan jiwa juga
bukanlah memilih untuk berpikir positif. Karena
berpikir positif harus memiliki landasan pondasi
paradigma berpikir. Tanpa itu, maka berpikir positif
akan terasa merugikan, konyol dan belum tentu
berhasil.
Dengan demikian, kita perlu berpikir, mengapa ada
seseorang yang memilih jalan untuk berpikir positif,
dan berhasil? Mengapa kok mereka bisa?
3. The Power of Least Effort.
Prof. Yohanes Surya pembimbing juara Olimpiade Fisika
yang telah memang pada beberapa kali kontes olimpiade
memperkenalkan kata Mestakung: Semesta Mendukung.
Artinya untuk mencapai suatu prestasi yang luar biasa,
dibutuhkan suatu keadaan kondisi kritis, sehingga
seolah-olah seluruh semesta akan mendukung, dengan
demikian dicapai prestasi yang luar biasa, misalnya
dalam memenangkan Olimpiade Fisika.
Kalau kita perhatikan, pada setiap orang yang sukses,
sebetulnya orang tersebut tidaklah memiliki sesuatu
yang sangat luar biasa, atau melakukan sesuatu yang
sangat luar biasa, mereka juga orang biasa, yang
melakukan hal-hal yang biasa saja.
Mengapa mereka bisa sangatlah berhasil? Sangatlah
diberkati? Sangatlah berprestasi besar? Mengapa mereka
mampu acomplish hal-hal yang besar?
Coba kita lihat, apapun itu, semut, kucing, ayam,
harimau, atau monyet, mereka bisa mencari makan,
mereka bisa menghidupi dirinya di hutan, artinya, Alam
memberikan semua kecukupan pada makhluk hidup.
Coba kita lihat manusia, ada yang bekerja menjadi
manajer, ada yang menjadi pengemis, mengapa lalu
timbul ketimpangan? Mengapa yang kaya menjadi lebih
kaya, yang miskin sulit menjadi kaya? Itu
menjunjukkan adanya suatu Rintangan dalam hidup
seseorang, artinya Alam tidak dapat secara utuh
menyediakan bagi semua orang.
Sedangkan kita lihat setiap hari.. Bunga mawar tumbuh
dan mekar harum mewangi, tanpa harus berusaha. Pohon
mangga tumbuh besar berbuah mangga manis, harum tanpa
berusaha. Rumput hijau dihamparan padang rumput nan
luas tumbuh tinggi tanpa berusaha. Artinya, Alam
memang membuat segala sesuatu menjadi tumbuh besar
tanpa harus berusaha, artinya secara alami memang
harusnya begitu.
Itulah The Power of Least Effort atau Mestakung
(Semesta Mendukung).
Kwik Kian Gie menjadi Menteri Perencanaan Pembangunan
Nasional (jaman Presiden Megawati) memang harusnya
begitu, tidak perlu harus melakukan apa-apa, dari dulu
yah begitu, sejak 20 tahun yang lalu
Atau kalau mau lebih jelasnya, diri saya ini, dari 20
tahun yang lalu yah begini-begini saja, tidak tambah
cerdas, tidak tambah IQ, tidak tambah hebat, dari dulu
begini-begini saja, waktu saya bekerja gaji pertama Rp
600 ribu, atau gaji terakhir bekerja Rp 15 juta, atau
saat ini, diri saya yah sama seperti yang dulu, hanya
lingkungannya yang berbeda,
Sama dengan teman saya, yang dulunya Accounting
Manager Indosiar selama 10 tahun, gaji terakhirnya Rp
10 juta. Mangapa sekarang bisa Rp 300 juta?
Apa yang membedakan?
Dari dulu dia itu yah begitu-begitu saja, hanya
tempatnya lebih progresif, lebih memacu potensinya,
sehingga dia bisa meluncur bebas tanpa hambatan,
mencapai yang terbaik dari SELURUH POTENSINYA
Bagaimana hal ini bisa terjadi?
1. Prinsip pertama: Setiap Orang akan mengalami
masa-masa dimana dia bias mengeruk kekayaan
sebesar-besarnya, pada suatu kesempatan, pada saat
itulah dia mengalami rejeki yang luar biasa.
Coba kita lihat, Ada teman saya yang dari dulunya
usahanya susah, tinggal di rumah mertua, punya usaha
seret, hanya gara-gara waktu temannya kesulitan
keuangan, dan dia membantunya, kebetulan usahanya
adalah pengolahan kayu lapis, dan pada waktu itu
Seorang Tokoh Bisnis sedang memulai usaha kayu lapis,
oleh karena itu diciptakan undang-undang melarang
ekspor kayu gelondongan. Maka bermilyar-milyar uang
melimpah masuk ke perusahaannya, dan saat itulah maka
kekayaan yang berlimpah ruah, cukup untuk hidup
selamanya
2. Prinsip kedua: Alam memberikan segala sesuatu
kepada setiap manusia yang menjadi dirinya sendiri
Artinya apa? Coba kita lihat, di dalam diri kita ada
NURANI. Nurani yang membawa kita hidup, tentunya
Nurani tersebut adalah sisi baik kehidupan kita, atau
gampangnya SISI
POSITIF diri kita. Kalau kita bisa memupuk Nurani
kita, maka hidup terasa lebih mudah.
Lalu kemana kita harus mencari Nurani kita? Bayangkan
begini, pernahkah anda merasa lega, tenteram, tidak
takut bersalah, padahal anda melakukan sesuatu yang
kelihatannya berbahaya? pada saat itulah Nurani anda
yang bekerja.
Misalnya, pada saat keluarga sedang genting, sedang
retak, sedang goyah, dan Anda tiba2 berkata sesuatu
yang kelihatannya sangat berbahaya, tetapi akhirnya
semua keluarga mendengarkan, dan akibatnya keluarga
menjadi utuh kembali. Pada saat itulah NURANI anda
yang berkata.
Nurani memberikan energi yang luar biasa pada diri
kita, bayangkan keadaan yang membuat anda tenteram,
lega, dan rela, dan tidak ada timbul rasa takut
bersalah, lalu mengapa anda harus melakukannya penuh
hambatan? Tentunya anda hanya melakukannya! Just Do
It!
Akibatnya tentu luar biasa. Nurani adalah diri kita
yang bebas kepentingan. Nurani adalah diri kita yang
sebenarnya Bukan diri kita sebagai Marketing Manager,
bukan diri kita sebagai pemilik BMW, bukan diri kita
sebagai orang yang memiliki gaji Rp 15 juta. Tetapi
hanyalah diri kita yang sesungguhnya
3. Prinsip ketiga: Berilah, maka anda mendapatkannya.
Banyak orang yang masih bingung, menganggap hidup ini
tidak Fair. mengapa hak-haknya diinjak-injak? Mengapa
orang-orang menekan dia? Mengapa orang-orang tidak
mengerti dia? Sebetulnya hidup ini gampang,
- Bila anda ingin bahagia, berikan kebahagiaan kepada
orang lain maka anda bahagia.
- Bila anda ingin kekayaan, berikan kekayaan kepada
orang lain, maka anda akan memperoleh kekayaan,
- Bila anda ingin keberhasilan, maka berilah
keberhasilan kepada orang lain, maka anda akan
mencapai keberhasilan anda
- Bila anda ingin mendapatkan segala sesuatu yang anda
inginkan, maka berilah orang lain segala sesuatu yang
mereka inginkan!
Lalu bagaimana kalau kita tidak punya apa-apa?
Pemberian yang terbaik adalah pemberian Non Material.
Malah pemberian secara diam-diam dalam hati sangat
besar dampaknya. Misalnya begini, anda bertemu
seseorang, dan anda tidak punya apa-apa, anda bisa
memberikan pujian, semangat, sapaan, doa, atau
perhatian, atau sekuntum
bunga, atau sebuah kartu ucapan berisi harapan anda
terhadap dia,
Mengapa kok bisa kita mendapatkan yang kita inginkan
dengan cara Memberi?
Karena Alam itu sungguh baik, kalau anda menanam budi
baik, maka anda akan menuainya, alam itu sungguh
sangat membalas budi baik anda,
Setelah Anda menemukan siapa diri Anda sebenarnya, dan
Anda mengerti bahwa Anda bisa mendapatkan apapun yang
Anda inginkan dengan cara memberi kepada orang lain,
4. Prinsip keempat: Kemarin adalah masa lalu,
berbentuk memory, Besok adalah berupa kemungkinan,
yang belum terjadi, Sekarang adalah gift/hadiah untuk
Anda.
Banyak teman2 yang suka ngomong aku dulu umur 27 tahun
sudah menjadi Senior Manager di perusahaan besar, aku
dulu 10 tahun yang lalu sudah begini-begitu, nah
itulah tandanya sudah terperangkap oleh masa lalu
Termasuk siapapun juga, seorang presiden sekalipun,
dulu 35 tahun yang lalu sudah bisa menumpas
pemberontakan besar, dll. Itu dulu.
Oleh karena itu masa lalu dinamakan ‘past’ dan masa
yang akan datang dinamakan ‘future’ dan masa sekarang
adalah ‘present’ atau hadiah.
Kita harus memahami keadaan sekarang. inilah awal
titik perubahan, suatu evolusi, yang akan terus
bergerak, masalahnya bergerak kemana?
5. Prinsip kelima: Kembangkan Intention yang
menentukan proses arah pergerakan, bukannya Desire,
atau tujuuan akhir dari pergerakan Anda dari sekarang
ke masa depan
Dari keadaan sekarang apa yang terjadi sekarang,
bagaimana situasi yang ada sekarang, kita memikirkan
Arah pergerakan diri kita. Misalnya, kita menentukan
saya mau bisnis sendiri, untuk meningkatkan
kesejahteraan saya dan teman-teman saudara saya.
Itulah Arah yang anda tentukan,
Jangan mengerjakan Bisnis supaya Anda bisa membeli BMW
atau Suzuki Katana. Itu sudah melanggar The Power of
Least Effort. BMW atau Suzuki Katana adalah Tujuan
akhir, yang belum tentu anda dapatkan.
Kita suka mengatakan, “wah kalau aku punya mobil BMW
aku akan bahagia” percayalah, Anda tidak akan bahagia.
Kalau sekarang saja, Anda tidak bisa mensyukuri apa
yang anda miliki, bagaimana nanti anda bisa mensyukuri
apa yang anda miliki?
Oleh karena itu, janganlah berporos pada Tujuan Akhir,
tetapi berporoslah pada Proses mencapai tujuan itu.
Kekayaan adalah apa yang anda dapatkan selama dalam
perjalanan Anda mencari Kesejahteraan hidup.
6. Prinsip Keenam: Jangan terikat oleh simbol-simbol
kekayaan
Sering kita terobsesi oleh uang, kekuasaan, bahkan
sex. Itulah perangkap perbudakan manusia. Orang bilang
jaman perbudakan sudah hilang, tetapi kita lihat
begitu banyak orang yang diperbudak oleh uang. Seumur
hidupnya hanya memikirkan uang, mencari uang, hidup
untuk uang.
“Kalau aku sudah memiliki uang Rp 2 Milyar, maka
hidupku akan bahagia, aku akan pensiun, menikmati
hidup, dan mencapai Financial Freedom” percayalah, itu
tidak akan terjadi. tidak akan terjadi.
Kekayaan bukan diukur oleh simbol-simbol itu. Kekayaan
yang sesungguhnya adalah bagaimana kita bias
mendapatkan apa yang kita inginkan, kapanpun itu,
dimanapun itu. Itulah kekayaan yang sesungguhnya.
Bayangkan ATM isi ulang, misalnya di bank Anda
tersimpan uang Rp 15 juta. Anda pikir wah, banyak
sekali, lalu anda gunakan untuk membeli Video Camera,
uangnya habis. Misalnya saat uang anda habis, lalu
terisi otomatis sebesar Rp 15 juta. Bukankah itu
Miracle?
Kekayaan adalah suatu Miracle, keajaiban. Banyak
sekali keajaiban-keajaiban yang bisa terjadi apabila
Anda sudah berada dalam lingkaran The Power of Least
Effort.
Seakan-akan segalanya terasa mudah, serba kebetulan,
serba terbantu, seakan-akan semua orang memiliki
pikiran yang sama dengan kita.
Oleh karena itu jangan dipaksakan bahwa Anda harus
punya uang Rp 100 juta, atau berapapun, karena anda
telah merusak keadaan Present Moment menjadi tidak
harmonis, Anda merusak diri Anda, anda tidak lagi bias
menjadi diri sendiri, melainkan sudah menjadi Budak
keadaan.
Nikmatilah keadaan Anda sekarang, dan saksikan
pergerakan hidup Anda, dan nikmatilah
keajaiban-keajaiban hidup yang terjadi pada Anda
Dengan demikian dengan mengenal jiwa kita, hati nurani
kita, diri kita yang sebenarnya akan membuat hidup
kita menjadi lebih mudah, dan kita bias mencapai
keadaan Mestakung (Semesta Mendukung) atau The Power
of least Effort ini.
4. Rasa bahagia karena mengenal Jiwa
Pernahkah kita merasa saat-saat paling damai, saat
paling lega, paling sentosa, paling rela, paling
bangga, paling bahagia? Saat-saat itulah kita
menemukan jiwa kita.
Rasanya seperti berada di atas awan. Apa ciri-ciri
kita menemukan jiwa kita?
1. Mengutamakan Integritas.
Anda tidak akan perlu lagi menggunakan bribery,
sogokan atau bahkan iming-iming “what’s in it for
me?”. Anda akan menghadapi orang lain dengan
berpegang teguh pada integritas anda. Dan dunia akan
membuka kesempatan walaupun Anda terlihat aneh
menghindari sogokan, atau mark up dalam bisnis. Namun
dunia akan memandang bahwa perusahaan Anda bagus,
karena kelebihan uangnya digunakan untuk meningkatkan
Kualitas dan Pelayanan.
Dalam berbicara, orang lain mendengarkan, karena Anda
menggunakan bahasa Jiwa. Dalam berbagai transaksi
bisnis Anda memikirkan pihak lain, dan langsung
berkomunikasi dari lubuk hati yang terdalam, sehingga
langsung mendapatkan kepercayaan. Kepercayaan itu
bukan masalah kepintaran atau argumentasi atau
keahlian. Kepercayaan berkaitan dengan bahasa hati.
Bila Jiwa Anda yang berbicara, maka akan menarik jiwa
prospek Anda untuk mendekat.
2. Anda akan mencapai Excellence, istilahnya “The Best
a Man Can Get”. Karena dorongan Jiwa begitu besar,
dan untuk kemuliaan kemanusiaan, maka Anda akan
menumpahkan segala semangat membara dalam hati secara
murni, tanpa tedeng aling-aling atau mengharap
balasan. Dan bagusnya, seluruh dunia akan mendukung
Anda, istilahnya memiliki “The Power of Least Effort”.
Dorongan Jiwa akan meledak-ledak seolah-olah berontak
dan langsung memberikan energi dan kecerdasan luar
biasa, menjadi sosok yang tangguh menghadapi segala
rintangan, dan dengan mudah mencari solusi jalan
keluar tanpa sadar.
3. Anda akan “detached” dari keadaan emosi.
Walaupun berada di tengah pertengkaran emosional, Anda
akan tetap tersenyum mengobservasi lawan bicara dan
diri Anda dari “luar”. Anda menjadi saksi dari
kekuatan Jiwa yang mampu menghadapi keadaan seberat
apapun.
Anda akan senantiasa mampu berpikir, bagaimana yang
terbaik karena yang menjadi pegangan adalah kebenaran
absolut. Ini akan memberi dorongan kekuatan yang
besar, seolah-olah problem senantiasa dapat dipecahkan
dengan alami. Otomatis terbuka pilihan-pilihan yang
tadinya tertutup oleh ego.
4. Kepercayaan.
Walaupun berbicara apa adanya, tanpa bermanis muka,
atau dengan argumentasi yang kelihatan canggih, namun
kesederhanaan ucapan Anda justru akan menggugah rasa
percaya pihak lain.
Apapun yang Anda katakan, pahit atau manis akan
dihargai lawan bicara. Mereka akan mengerti bahkan
terbuka pikirannya. Tidak ada yang mampu melawan
kebenaran absolut, dan itu hanya dimengerti oleh Jiwa.
Mereka akan menerima apa adanya tanpa merasa
terancam, atau terpojokkan atau dirugikan oleh
kata-kata Anda.
5. Autentik.
Pikiran dan ucapan akan menjadi spontan. Bahkan bisa
dengan leluasa menggunakan kata-kata yang belum pernah
Anda ucapkan sebelumnya. Pikiran yang muncul sifatnya
original, dan tidak pernah didengar bahkan oleh diri
Anda sekalipun. Pada saat Jiwa berbicara, isi
kata-kata yang dilontarkan adalah spontan yang tidak
pernah terpikirkan. Mereka keluar dengan tulus dari
lubuk hati untuk kebaikan pihak lain.
6. Inspirasi.
Pikiran akan senantiasa terinspirasi oleh ide-ide yang
terekplorasi, dan menjadikan kemungkinan atau pilihan
Anda semakin banyak. Anda akan diberi kecerdasan
kreasi, menciptakan sesuatu yang belum ada menjadi
ada. Secara bawah sadar, Anda akan terus menerus
mengeksplorasi ide-ide yang fokus. Pikiran akan bersih
dari emosi dan keraguan. Anda akan senantiasa mampu
memikirkan alternatif untuk orang lain, secara
obyektif.
7. Anda berada dalam keadaan damai, tenteram, nyaman
dan bahagia, walaupun Anda dalam keadaan sendirian,
atau di tempat sepi.
Pikiran Anda senantiasa diliputi oleh perhatian pada
orang lain, sehingga seolah-olah melihat film
kehidupan dengan bintang utama orang lain. Setiap
waktu akan tersenyum melihat keadaan sahabat, baik
yang bersikap baik maupun jahat. Bahkan Anda akan
sering menangisi keadaan orang tertindas, dan Anda
akan senantiasa mensyukuri karunia Allah, walaupun
dalam keadaan sulit.
8. Peranannya dalam dunia ini sama, dalam keadaan
masih hidup atau sudah meninggal.
Karena dia hidup dengan cara seolah-olah sudah
meninggal, dan pengaruhnya masih ada seakan-akan
sosoknya masih hidup, walaupun sudah meninggal.
Jika bersikap seolah-olah sudah meninggal, maka Anda
akan merasa terpanggil untuk menolong orang lain,
mengasihi orang lain, dan bebas kepentingan. Kan udah
meninggal! Anda akan merasa bahwa hidup ini hanyalah
melaksanakan tugas dari Sang Pencipta untuk memelihara
orang di sekitar, dan tidak akan merasa memiliki
hal-hal duniawi, namun puas dengan memanfaatkan yang
ada di depan Anda. Nilai-nilai yang Anda tanamkan
akan terus bergulir, walaupun sudah meninggal.
Buku Piramida Kebutuhan Jiwa yang Bahagia ini
menjelaskan bagaimana proses sebuah perjalanan Jiwa
berjalan, mulai dari
1. Pengenalan jiwa, dengan memenuhi Kebutuhan Didengar
2. Mendapatkan Jiwa dengan mengalahkan ego yaitu
Terbebas dari Ambisi
3. Memberi makan Jiwa dengan Menyembuhkan atau berbuat
kebaikan.
4. Mengembangkan Kebijaksanaan dengan Mengerti
Kebenaran
5. Mengisi hidup Jiwa kita dengan Mengikuti Kata hati
6. Menguatkan identitas sosok Jiwa kita dengan Mencari
Jati diri
7. Mencapai kesempurnaan Jiwa dengan mencapai
Kemuliaan.