ebih inspiratf untuk belajar tentang CINTA?
Catatan usil &draft Yohanes Bosco Hariyono
Siapa yan patut kucintai?
Saudaraku saja?
Karabat dekat?
Mereka yang mencintaiku lebih dulu?
Mereka yang kuanggap sahabat?
atau hanya mereka sepaham denganku?
Sering orang bertanya demikian.
Jika banyak yang cenderung seperti ini berarti wajar dong!
Masalahnya bukan wajar atau tidak,
melainkan apakah ini bijak?
Apakah ini menuntun orang menuju pada pengenalan akan CINTA SEJATI atau tidak!
Dengan kata lain, serangkaian pertanyaan pembuka di atas adalah mencari OBJEK cinta.
Padahal cinta lebih butuh SUBJEK daripada OBJEK.
(benarkah?)
Sebab CINTA itu sendiri ádalah KATA KERJA.
(kayaknye Benda deh!)
Kata kerja membutuhkan SUBJEK sebelum menemukan OBJEK.
(iya kalo itu kata verja! Kalo bukan?)
Maka marilah menjadi subjek cinta untuk menemukan makna sejati dari CINTA.
Enak aja. Masalahnya bagaimana sih menjadi SUBJEK Cinta? Jawab Dong!
Menjadi Subek Cinta?
OK. Menjadi subjek cinta berati menjadi pelaku atas CINTA.
(Jadi inget pelajaran bahasa S-P-O-K)
Sebagai pelaku berarti memaknai cinta sebagai KATA KERJA,
Apa artinya?
Kata kerja mengandung unsur pengertian serangkaian AKTIVITAS dinamis.
Dinamika aktivitas itu digerakkan dari INTENSIONALITAS.
Intensionalitas itu sendiri bermakna sekurangnya sebagai KESENGAJAAN. Kesengajaan yang
bersumber dari PENGETAHUAN dan KEMAUAN, KESADARAN dan KEMAMPUAN terberi
untuk MENCINTAI yang dimiliki oleh setiap ciptaan TUHAN, SANG MAHA DAN
SUMBER CINTA ABADI.
Mengapa orang tidak boleh terjebak mencari objek cinta belaka?
Jika demikian yang terjadi, akan terpilah-pilah dan terpilih-pilih
siapa saja yang patut dicintai. Jika Pendekatan positif sekalipun yang
dipakai akan sulit memerinci : siapa saja sih yang patut dicintai,
apalagi jika pendekatan digeser ke arah pendekatan negatif: Siapa saja
sih yang patut dibenci. Keduanya menyulitkan karena memunculkan daftar
panjang yang belum tentu benar dan tidak membingungkan si pelaku.
Singkatnya? Mencari objek tak mengajar apapun tentang cinta
Ketika pertanyaan dibali:
"Sebaliknya menjadi SUBJEK atau Pelaku CINTA akan mempermudah kita belajar tentang Cinta?"
Jawabnya, Tentu saja YA. Sekali orang menjadi pelaku atau SUBJEK cinta, dia akan terobsesi:
• inikah wujud cinta? Apakah aku seorang pecinta sejati?
• apakah aku sudah mengahdirkan cinta lewat hidupku, sikapku, tindakanku?
• Benarkah aktivitasku sudah mendukung-wujudkan bagaimana sesorang mengalami cinta dalam hidupnya, lewat kehadiranku
Pertanyaan-2 reflekstif itu tak bakalan ada matinya karena
membangkitkan tuntutan dialekstis untuk dipertanyaakan dan
mempertanyakan diri dalam dinamika antitesis untuk menemukan sintesis,
yg sekaligus tesis baru lagi.
Dengan demikian dari waktu ke waktu, orang akan menemu secara empiris makna cinta dan pergulatan mereka dengan cinta.
Friends' Update
-
Loading ...Please wait..
0 Responses
Stay in touch with the conversation, subscribe to the RSS feed for comments on this post.